Mata ini tak bisa terpejam
Layangkan pandang pada wajah lain
yang merindukan KEKASIH
Bibir ini menahan dahaga
Untuk segera rasakan manisnya sambut-Mu
Dan kesetiaan ini telah terjual pada-Mu
Kesabaran pun terbeli oleh-Mu
Semu cinta lenyap, terbuang dalam sepi
Terlindas dingin hati
Menari aku dalam gelombang pasang samudera jiwa
Selalu saja timbul dan tenggelam
dan aku terhempas di tajamnya karang
Masih terngiang perih luka yang merona
Masih terasa berat mulut ini untuk mau membuka
Mungkin engganku melihat nyata
Jasad-jasad terserak diantara-ku
Melunturkan mimpiku tentang pelangi
Rabb, demi Asma-Mu, suburilah Negeri ini lagi!
Pada jiwa dan jasad mereka yang tlah tiada
Diantara belai dan kecup lembut bidadari
dan sapa lembut malaikat di penantian surga….
Mataku haru, terpejam perih, kembali.
Tak lagi layangkan pandang pada wajah lain
yang merindukan KEKASIH, merindukan-Mu.
Rabb, Betapa ku ingin menggenggam-Mu.
*Untuk Indonesiaku. Aku menginginkan batas cinta-Mu yang tak berujung, tapi itu hanyalah kondisi yang naif saat ini (Di
sela penayangan ’Sang Murabbi’ SilNas FLP, Aula P4TK-Depok, 120708) dan
seperti do’a yang sebelumnya, terimalah amal kebaikan K.H. Rahmat
Abdullah di sisi-Mu)
ps
: terima kasih tuk Kang Irfan Hidayatullah yang mengabulkan seloroh
kecilku, ”aku ingin Sang Murabbi bukan Ayat-ayat cinta, bosan! Lagipula
even-nya gak cocok dengan Sastra Hijau!” Sesaat sepasang mata lembut
itu terpana, untuk sekejap kemudian menghadirkan maklumat senyum yang
menyejukkan di wajah arifnya.
Maaf
Akang….Na emang ceplas-ceplos, tapi ternyata saat ditayangkan,
gemuruh jiwa pemirsa yang membahana sama dahysatnya dengan pemaparan
Novel Ayat-Ayat Cinta di sesi pertama, kan.
Maaf
juga tuk Kang Abik dan segenap penggemarnya, Novel memang karyanya tapi
film adalah karya Hanung Bramantyo, dan semua ada masanya. Bagiku kini
adalah masa Sang Murabbi. Murabbi itu kisah nyata sedang Fahri itu
fiktif. Dan untuk kemanusiaan Murabbi lebih berarti dibanding Fahri
yang cuma untuk dirinya sendiri. Muaafff…yang sebesar2nya.