Betapa mustahilnya

July 31st, 2008 by badruttamam

Betapa mustahilnya

Ya, betapa mustahilnya, Rabb

Melukiskan ujud-Mu,

Kekuasaan dan kehendak-Mu

Betapa sulitnya,

Ya, betapa sulitnya!

Melukiskan ujud,

Kekuasaan dan kehendak manusia

Apakah perbuatan baik,

Apa pula perbuatan jahat,

Apakah agama dan filsafat

Apa pula kebenaran dan kasih sayang

Dunia selalu meributkannya

Persoalan-persoalannya sendiri

Nilai dan ukuran-ukuran baru,

Sementara itu,

Persoalan-persoalan pun tak kunjung berlalu

Bila rizki telah cukup

Adakah semuanya telah tercakup

Namun bila sebuah keyakinan berdasar kuat-kuat

Ia tak

kan

luruh karena ruang, waktu dan materi

Dan semuanya tetaplah teka-teki

Selamanya tak

kan

terselesaikan

Persoalan-persoalan yang memburu dalam-dalam

Aku menatap-Mu, bertanya pada-Mu

Aku menatap-Mu, Rabb

Dengan gelengan kepala dan mulut bisu

Rabb,

Aku tetap bertanya pada-Mu

Dan bila ku tatap langit-Mu

Bukan itu pula sikap dungu

Mengharapkan sebuah wahyu

Cinta itu benih

July 31st, 2008 by badruttamam

Cinta itu benih sebibit, timang ku timang di ladang hati
Antara rasa ingin dan deru egoistik, tiga hari berganti
Berayun-ayun dalam buaian angin, menapak lebih tinggi
Hasil yang akan ku dapat, ku nanti…

Pun aku…

Lekat dalam harap, mengundi dadu
Mengira-ngira pada senyum yang kau berikan
Bagai kelopak teratai mekar di tanganku

Pun aku…

Padamu meradang,
Cinta…..

Aku milikmu, Ayah.

Kiranya inilah jawaban dari, “ada apa dengan dadaku yang berkecamuk hingga menyesatkan benak?” Hal apa yang membuatku ‘buntu’ menulis di tiga malam dalam hidupku. Ayah, ternyata salah satu sumber kekuatanku dan aku menyesali keakuan diriku kemarin. Tuhan, ampuni aku.

Dalam-

July 31st, 2008 by badruttamam

Dalam-diam-sendiri-di-pelukan-Tuhan
Indahnya-terasa-di-taman-firdaus
Saat-menyebut-indah-pesonamu-dalam-do’aku

Dalam-diam-jemari-lembutmu-adalah-perisai-dukaku
Ketika-keletihan-menguras-peluh

Dalam-bayangan-malam
Lagu-sakralmu-menggugah-jiwa
Kudengar-dan-kutemukan
Pada-setiap-kalimat-yang-datang-dari-sela-bibirmu

Dalam-diam-aku-pinta-padamu,ibu
Do’amu,-aku-ingin-abadi-di-sini
Dikamar-sembahyang
Diruang-sunyi….
Sajadah-panjangku!

perenungan

July 31st, 2008 by badruttamam

Aku mencaci kekosongan,

Meratapi yang telah hilang,

Namun percuma,

Sebab Matahari itu tak mungkin kembali,

Kabut malam telah mengambil jasadnya,

Sementara aku, pudar, berkawan sunyi,

Mengubur diri dalam ilalang.

Namun kenangan tak’kan terlepas

Mengingatnya membuat jiwa semakin panas,

Setelah Kau sayat dengan cerita tentang hidup yang ganas.

Pun aku menepikan harap, mendiamkan Engkau

Menjadi abadi dalam kalbu ini.

Karena Engkau,

Aku memaknai hidup dalam shalawat

Menunggu-Mu datang dengan segala keajaiban,

Biar pun jiwa menggigil, dingin mencambuk perasaan,

Sebab dosa yang bertuba menyelungkupi raga.

Sementara bibir tak mampu sebut nama-Mu,

Kupacu jiwa mengeja Istighfar

Maafkan aku telah melupakan Engkau

Tinggalkan Engkau dalam hening, di Arsy-Mu.

 

Aku tahu, mati itu pasti,

Kutahu cinta-ku pun sudah lebih dulu pergi

Dan menungguku di penghujung mimpi,

Realita, aku mau bertemu cinta yang pasti.

Cinta-Mu, Allahu Robbul Ijjati.

rindhu

July 31st, 2008 by badruttamam

Tahukah kau rasa menahan rindu?
Memendam dalam lubuk, terpasung antara jarak dan waktu
Menyimpan percikan memori
di bawah buaian angan,
hingga merasuki mimpi hari-hari.
Baranya hangat
meletup-letup dalam detak jantung
memburu….

Oh, betapa kunanti ledakannya saat bertemu!
Berpijar laksana puluhan kembang api
mengerling mesra pada bintang,
yang merayu bulan di langit kelam.
Berdentam mengejutkan…
memukau mata,
menjajah telinga,
membungkam kata.
Memompa getar-getar rinduku padamu
yang sungguh terlalu…..

”Jagung Bakar-ku….”

*aslinya puisi ini di copas dari Kak ilalang di apresiasi puisi, judul aslinya ‘Ledakan Rindu’. Aku cuma tambahkan kata ‘jagung bakarku’ dan ganti judul…abis lagi iseng sih…makasih bgd tuk kak ilalang, dan maaf ku-post di mp-ku.

kamu

July 15th, 2008 by badruttamam

Dengan dirimu kini ku bahagia
Tak henti kau berbagi canda tawa
Hilangkan gairah lelah hatiku
Hadirmu mengubah arti hidupku

Jadilah aku tawanan cintamu
Kuserahkan seluruhnya untukmu
Kupenuhi semua yang kau inginkan
Tiada yang penting selain dirimu
*
Sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu
Di setiap waktu……..di setiap waktu…..
Sepanjang hidupku telah ku relakan dirimu
Tuk tinggalkan aku……tuk tinggalkan aku….

Sejuk kasihmu sampai ke tulangku
Hingga detak jantungku tak berhenti
Senyum manismu sinari hatiku
Tulus setia cintaku hanya untukmu

Sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu
Di setiap waktu……..di setiap waktu…..
Sepanjang hidupku telah ku relakan dirimu
Tuk tinggalkan aku……tuk tinggalkan aku….
*
Sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu
Di setiap waktu……..di setiap waktu…..
Sepanjang hidupku telah ku relakan dirimu
Tuk tinggalkan aku……tuk tinggalkan aku….

oh pelitaku

July 15th, 2008 by badruttamam

Mata ini tak bisa terpejam 

Layangkan pandang pada wajah lain

 

yang merindukan KEKASIH

 

Bibir ini menahan dahaga

 

Untuk segera rasakan manisnya sambut-Mu

 

 

 

Dan kesetiaan ini telah terjual pada-Mu

 

Kesabaran pun terbeli oleh-Mu

 

Semu cinta lenyap, terbuang dalam sepi

 

Terlindas dingin hati

 

 

 

Menari aku dalam gelombang pasang samudera jiwa

 

Selalu saja timbul dan tenggelam

 

dan aku terhempas di tajamnya karang

 

 

 

Masih terngiang perih luka yang merona

 

Masih terasa berat mulut ini untuk mau membuka

 

Mungkin engganku melihat nyata

 

Jasad-jasad terserak diantara-ku

 

Melunturkan mimpiku tentang pelangi

 

 

 

Rabb, demi Asma-Mu, suburilah Negeri ini lagi! 

 

Pada jiwa dan jasad mereka yang tlah tiada  

 

Diantara belai dan kecup lembut bidadari

 

dan sapa lembut malaikat di penantian surga….

 

 

 

 Mataku haru, terpejam perih, kembali.

 

Tak lagi layangkan pandang pada wajah lain

 

yang merindukan KEKASIH, merindukan-Mu.

 

Rabb, Betapa ku ingin menggenggam-Mu.

 

  *Untuk Indonesiaku. Aku menginginkan batas cinta-Mu yang tak berujung, tapi itu hanyalah kondisi yang naif saat ini (Di
sela penayangan ’Sang Murabbi’ SilNas FLP, Aula P4TK-Depok, 120708) dan
seperti do’a yang sebelumnya, terimalah amal kebaikan K.H. Rahmat
Abdullah di sisi-Mu)

 

ps
: terima kasih tuk Kang Irfan Hidayatullah yang mengabulkan seloroh
kecilku, ”aku ingin Sang Murabbi bukan Ayat-ayat cinta, bosan! Lagipula
even-nya gak cocok dengan Sastra Hijau!” Sesaat sepasang mata lembut
itu terpana, untuk sekejap kemudian menghadirkan maklumat senyum yang
menyejukkan di wajah arifnya.

 

Maaf
Akang….Na emang ceplas-ceplos, tapi ternyata saat ditayangkan,
gemuruh jiwa pemirsa yang membahana sama dahysatnya dengan pemaparan
Novel Ayat-Ayat Cinta di sesi pertama, kan.

 

Maaf
juga tuk Kang Abik dan segenap penggemarnya, Novel memang karyanya tapi
film adalah karya Hanung Bramantyo, dan semua ada masanya. Bagiku kini
adalah masa Sang Murabbi. Murabbi itu kisah nyata sedang Fahri itu
fiktif. Dan untuk kemanusiaan Murabbi lebih berarti dibanding Fahri
yang cuma untuk dirinya sendiri. Muaafff…yang sebesar2nya.

ya rabb

July 15th, 2008 by badruttamam

hingga sekian lamanya kenapa masih bayangmu tak mau pergi,tetap
menjelma menemaniku dalam sepi,tersiksa batinku wahai sang kekasih tp
kau tetap diam,airmata setia menemani tuk memohon pada RABB ku agar
cobaan yg ada padaku dan padamu semoga bisa terlewati…tak sanggup aku
ya RABB bila mendengar sang pujaan hati menderita tak sanggup aku ya
RABB bila dia hadapi sendiri luka…ya RABB maha tahu segala apa yg
akan terjadi,maha tahu apa yang ada dihati ini, ya RABB kami satu tak
terpisah tapi kenapa tak pernah menyatu???semua ini adalah rahasia_MU
ya ILLAHI RABBY….tertawaku..tlah tiada …senyumku tlah
memudar….hanya denganmulah aku bisa tersenyum bahkan
terbahak….kutemui jalan terang saat bersamamu kutemukan semuanya
bahkan Allah memberikan hidayahnya lewat dirimu wahai sang
kekasih….kini bidadarimu menangis,kini permaisurimu tersengguk tapi
kau diam…aku yakin engakaupun rindu ….tapi engkau terpaku biarkan
aku…tetap berpaku tuk menunggu senja tiba…nama yang indah yakni
nama malaikat penjaga surga yang engakau bawa…:),aku tetap
mencintaimu wahai belahan jiwaku,kuyakin engkaupun tak sanggup
tinggalkan aku hanya entah apa yang membuatmu beku.

bahagia

July 15th, 2008 by badruttamam

ertama-tama kita harus bertanya apakah kebahagiaan itu? Mungkinkan kita
memperoleh kebahagiaan di dunia ini? Bagi orang yang kelaparan
kebahagiaan adalah mendapat makan. Bagi orang yang sedang ujian
kebahagiaan adalah kelulusan. Bagi orang yang di penjara kebahagiaan
adalah kebebasan. Bagi orang yang sedang berpacaraan kebahagian adalah
ketemu sang pacar atau pernikahan. Dan masih banyak yang lain.
Kebahagiaan itu sungguh relatif dan tergantung pada subjek yang
membutuhkannya. Kebahagiaan saya tentunya berbeda dengan kebahagiaan
orang lain.Kebahagiaan itu seakan-akan sebuah utopia dalam hidup
manusia. Manusia memang dapat memperoleh kebahagiaan tersebut, namun
kebahagiaan itu tidak permanent. Ia hanya bersifat sementara saja dan
berlangsung dalam waktu yang singkat. Dari dahulu, manusia selalu
mengharapkan kebahagiaan. Bahkan tidak ada manusia yang mengharapakan
penderitaan (kecuali orang yang tidak sehat alias mengalami ganguan
mental). Manusia telah bersusaha, berjuang mati-matian untuk
menciptakan kebagiaan tetapi tetap saja tidak tercapai. Para politikus,
ilmuan, pemikir, pengusaha, telah bekerja keras, tapi hasilnya tampak
sia-sia. Manusia tetap mengalami penderitaan.Saya hanya berfikir:
Mungkinkah kebahagiaan itu ada tanpa penderitaan? dan juga sebaliknya?
Bagaimana kita mengenali kebahagiaan tanpa adanya penderitaan? Dalam
hal ini, untuk mengenal sesuatu pasti kita membutuhkan pembanding.
Sebagai contoh: Kaya. Untuk mengerti orang kaya harus ada orang miskin.
Kalo semua orang kaya, maka itu tidak kaya namanya. Hidupnya sama saja
dengan yang lain, atau biasa saja.Kebahagiaan itu bukan saja menyangkut
materi tetapi juga spiritual. Usaha manusia dan kerja kerasnya menjadi
kebahagiaan spiritual adalah sebagaian kecil dari kebahagiaan spiritual
manusia. Dalam hal ini tergantung apa yang mau dia capai, apa yang
diharapkannya dan lain sebagainya. Kekayaan material berubah menjadi
kekayaan spiritual, bisa saja diterima tetapi ini hanya bagian sebagian
kecil saja.Kebahagiaan spiritual menurut saya melepaskan diri manusia
dari penderitaan. Hal ini sangat jelas diajarkan oleh Sidharta Ghautama
Budha. Selagi nafsu, keinginan, kebutuhan, emosi melekat dalam diri
manusia maka ia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan spiritual. Oleh
karena itu mewariskan etos kerja keras dan halal belum tentu dianggap
sebagai kebahagiaan. Karena ketika orang tua mewariskannya kepada
anak-anak-nya maka orang tua itu akan mengalami ketidak bahagiaan yang
lain: mungkin masalah kesehatan, kurang diperhatikan pada masa tua
karena anak-anak sibuk bekerja, kecemasan kalau anaknya bepergian akan
terjadi kecelakaan, dan lain sebagainya. So, benarkah kita akan
memperoleh kebahagiaan? Atau itu hanya sebuah utopia?Capek

Di pelataran agungMu nan lapang

June 22nd, 2008 by badruttamam

Di pelataran agungMu     nan lapang

                                              kawanan burung merpati

                                              sesekali sempat memunguti

                                              butir-butir bebijian

                                              yang Kautebarkan

Lalu terbang lagi               menggores-gores biru langit

                                              melukis puja-puji

                                              nan  hening

Di pelataran agungMu      nan lapang

                                              aku setitik noda

                                              setahi burung merpati

                                              menempel pada pekat
gumpalan

                                               yang menyeret warna

                                               bias kelabu

                                               berputaran

                                               mengabur melaju

Luruh dalam gemuruh       talbiah

                                                takbir dan tahmid

Dikejar dosa-dosa              dalam kerumunan dosa

Ada sebaris doa

Siap kuucapkan                  lepas

                                                terhanyut airmata

                                                tersangkut di kiswah

                                                nan hitam

Di pelataran agungMu        nan lapang

                                                 aku titik-titik tahi
merpati

                                                 menggumpal dalam titik
noda

                                                 berputaran

                                                 mengabur melaju

Luruh dalam gemuruh        talbiah

                                                 takbir dan tahmid

Mengejar ampunan             dalam lautan ampunan

Terpelanting                          dalam

                                                  khauf dan raja